Langsung ke konten utama

Bandung dan Yogyakarta



“Saya ingin bercerita sedikit. Mengenai perjalanan yang berisikan bulir hikmah yang pernah saya tempuh tahun lalu. Tentang Bandung, Yogyakarta dan tentunya petikan hikmah.” (Ika Septi)

Dan akhirnya saya pulang. Bandung meninggalkan banyak cerita, tentang dinginnya malam yang berpadu dengan indahnya alam sekitar. Kuasa Allah lah yang melangkahkan kaki saya dan menggerakkan hati saya untuk bergabung bersama mereka. Berbekal rasa kepo dan testimoni teman-teman kampus, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Awalnya, saya mengajak teman shalihah saya untuk turut mendaftar tapi qodarullah beliau memilih ikut pelatihan di tempat lain yang tak kalah keren nya. Akhirnya saya sendirilah yang benar-benar mendaftar. Melewati serangkaian proses.

Saya ragu di awal, akankah saya lolos seleksi? Tiba di hari pengumuman saya terkejut bukan main. Nama saya mampang di pengumuman itu. Rasanya ragu. Akankah bisa ke Bandung? Sendiri pula. Tapi Allah Maha Baik. Allah gerakkan hati Mas Gerry (DPP UGM 2013) yang menghubungi saya via WhatsApp, menawarkan untuk berangkat ke Bandung bersama dengan 1 anak UGM lainnya dan anak UNDIP.
Dari UGM ada 3 orang yang lolos. Saya, Mas Gerry dan Mbak Rias (Psikologi UGM 2013). Akhirnya kami pun sepakat untuk berangkat bersama. Langkah awal yaitu pembuatan grup line UGM ke Bandung yang saya buat. Berlanjut ke pemesanan tiket menuju Bandung. Kami membidik yang ekonomi saja hehe dengan tujuan Lempuyangan-Kiara Condong. Tapi masalah muncul beberapa hari sebelum pemesanan tiket. Beasiswa yang biasanya saya dapat 3 bulan sekali, tak kunjung turun juga. Saya khawatir. Darimana saya dapat uang. Minta ke orang tua? Oh jangan sampai.

Lagi-lagi atas campur tangan Allah lewat Mbak Rias. Disaat saya hendak mundur karena tak ada biaya beli tiket, Mbak Rias menawarkan pinjaman uang sekalipun hanya uang tiket. Akhirnya saya ambil kesempatan itu dan masalah tiket sudah selesai. Masalah lain adalah perlengkapan yang saya belum punya. Akhirnya, banyak jalan yang Allah sediakan. Saya mendapatkan semua itu gratis, pinjaman dari Allah melalui perantara beberapa teman dekat dan adik sendiri. Selesailah masalah perlengkapan lapangan.
Sempat terbesit dalam fikiran,

“Memang sih tiket sudah di tangan, tapi mau makan apa saya di Bandung nanti? Secara, Bandung lebih mahal dari pada Yogya.”

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada salah satu kerabat di Tangerang. Saya mengajukan pinjaman uang kepada beliau untuk uang saku ke Bandung dan melunasi hutang ke Mbak Rias. Tapi oh Allah, uang yang awalnya saya hanya pinjam 300 ribu malah dikirim 500 ribu tanpa harus mengembalikannya. Beneran ini jalan dari Allah nih.
***
Setelah semua rintangan itu terlewati, saya menyempatkan pulang ke Klaten untuk meminta restu dari orang tua. Akhirnya, Kamis 24 September 2017 pukul 18.15 berangkatlah saya, Mas Gerry dan Mbak Rias dari Stasiun Lempuyangan menuju Kiaracondong. Punggung rasanya perih, hampir 8 jam bertahan pada dinding kereta yang dingin tanpa bantal empuk. Maklum, kereta ekonomi. Namun, semua kesedihan itu usai di pukul 2.30 pagi.

“Welcome to Bandung euy.” Sorak saya dalam hati.

Tak lama berselang, selepas sholat subuh kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Salman ITB. Lokasi menuju Masjid Salman yang tidak dekat membuat kami memesan kendaraan berbasis online. Terjadilah percakapan di dalam mobil, yang jelas adalah bahasa sunda. Saya yang berlatar belakang jawa halus karena dekat dengan Solo dan Yogya, sedangkan Mbak Rias yang ngapak khas Purwokerto hanya saling pandang. Sang Akang asyik berbincang dengan Mas Gerry yang titisan sunda asli Sukabumi.
Akhirnya kami sampai di lokasi. Masjid Salman ITB. Kuasa Allah mempertemukan saya dengan teteh-teteh panitia dan mempersilakan kami untuk istirahat di asrama. Beliau berkata kalau asrama putri ada di lantai empat. Seketika saya lemas. Tas carrier yang super berat ini rasanya ingin saya tinggal saja. Tapi akhirnya saya bahagia karena tersedia lift untuk menuju kamar asrama. Saya terselamatkan.
Perjalanan dimulai.
3 hari 2 malam yang banyak menginspirasi saya. Dimulai dari perjalanan menuju lokasi di malam hari. Beban berat tas carrier yang saya pikul, belum lagi medan lokasi yang menanjak. Ah sudahlah. Saya jelas menyerah. Dan ternyata benar. Baru beberapa menaiki anak tangga, nafas saya seakan habis hingga pada akhirnya saya duduk di tepi tangga meninggalkan rombongan. Saya memang ada sedikit maslaah pada dunia pernafasan. Barangkali karena masih malasnya saya untuk berolahraga.
Dalam kelelehan bak orang asma itu, salah satu panitia mengingatkan saya. Reminder yang menyejukkan.

“Masih capek?” Tanyanya. 

Saya tak menjawab. Nampaknya panitia itu paham. Karena untuk bernafas saja saya masih tersengal-sengal.

“Baca dzikir. Minta sama Allah buat dipinjami kekuatannya barang sejenak. La haula wa la quwwata illa billah. Ayo ayo. Ini belum apa-apa.”

Seketika saya jadi tersambar. Saya coba, saya yakin Allah pasti bantu dan akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan menyusul rombongan. Baru itu saja saya sudah menyerah, dasar payah, gumam saya saat itu.
Perjalanan terus berlanjut. Materi, diskusi, materi, diskusi, seakan menjadi kawan setia. Oh ya, saya lupa satu hal. Hafalan ayat juga menjadi salah satu challenge perjalanan itu. Dinginnya malam, teriknya panas tak menjadi penghalang. Untaian hikmah di sekitar saya bergelimang luas. Pemaknaan hikmah dan pengaplikasian dari makna itulah tujuan akhir dari perjalanan ini. Merdeka untuk peradaban adalah jargonnya. Menyelami alam dan memetik hikmah sebanyak-banyaknya.

Disana saya bertemu banyak tokoh inspiratif. Tokoh-tokoh yang mempunyai banyak pengaruh di Salman dan pergerakan lembaga dakwah di kampus-kampus. Mereka berkisah tentang pengalaman mereka semasa muda dan menjadi aktivis di kampus. Selain itu, teman-teman dari berbagai universitas. Ide mereka sungguh wew kalau saya bilang. Bacaan Qur’annya bagus pula. Jadi ngiri euy.
Dalam perjalanan itu pulalah waktu leha-leha jarang kami dapatkan. Mau ke toilet saja, hanya diberi waktu 30 detik di kamar mandi, waktu makan yang hanya 3 menit, pendirian tempat tidur 15 menit dan semuanya yang serba dadakan seperti tahu bulat. Bisa diimajinasikan sendiri ya.

Belum lagi kita serasa terisolir dari dunia luar. Semua alat komunikasi, alat pembayaran, jam tangan, dan semuanya di amankan oleh panitia. Bahkan jam dinding di lokasi pun di copot juga. Benar-benar buta waktu .
Tapi di balik itu semua, tersimpan hikmah yang luar biasa, hingga tak terasa 3 hari 2 malam itu akhirnya usai. Menyisakan kenangan dan pengalaman. Maka kembalilah saya dan rombongan ke Masjid Salman. Saling mengucap salam perpisahan.
Pun sama dengan saya. Mbak Rias dan Mas Gerry. Disisa waktu yang ada sebelum pulang ke Yogyakarta, saya dan Mbak Rias sempat jalan-jalan keliling ITB. Kampusnya yang luas, hijau, adem ayem, ditambah lagi masjidnya yang nyaman membuat saya rasanya enggan pulang. Tapi apa mau dikata. Esoknya saya harus kembali kuliah. Saya harus mempertanggungjawabkan beberapa kali skip kelas yang telah saya lakukan.



Hikmah itu layaknya oksigen. Ia berada dimana-mana dan terhirup oleh kita setiap saat. Namun, terkadang kita masih belum optimal dala memaknainya. (Perkataan salah satu alumni)


Apakah teman-teman penasaran? Jikalau YA, langsung saja buka google dan cari LMD Salman. 

Saya tak ingin banyak membocorkan apa yang saya dapat disana (agar terkesan kejutan hehe). Dan maaf jika cerita ini berakhir dengan ketidakpastian alur. Yang jelas, jika ada kesempatan, coba dan ikutlah. Karena ternyata Bandung dingin lho, sekitaran kampus kita saja yang masih panas. Abaikan. Bukan itu kok. Saya banyak belajar dan mengerti. Bandung dan Yogyakarta adalah secuil kota di Indonesia yang telah memberikan saya banyak pengajaran. Mereka tercipta atas 3 nama: ukhuwah, kajian, dan pulang.
Hai para pembaca yang budiman, selamat mengarungi lautan pemaknaan. Dimanapun kalian berpijak.


Salam
Alumni LMD Salman angkatan 188  
Kelompok 10

p.s Foto angkatan 188




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Kembali

Menulis. Aktifitas yang seringkali saya cantumkan di kolom “hobby” dalam saat pengisian formulir. Membaca juga. Rasa-rasanya mereka adalah angan-angan semu yang selalu saya harapkan menjadi nyata. Berbicara mengenai keduanya, saya jadi ingin flashback beberapa tahun lalu saat masih di SMP. Saya adalah anak yang rajin membaca novel, lalu menulis diary hingga pada akhirnya saya simpan rapat-rapat.  Tapi entah mengapa semenjak kuliah ini, saya menjadi malas. Malas baca buku apapun, bahkan novel sekalipun. Kesibukan hanya terpaku pada caption menarik di media sosial. Astagfirullah , jangan ditiru ya. Padahal, jika kita mau berkaca dan menengok sebentar, ada banyak sekali manfaat ketika kita mau membaca dan menulis. Membaca layaknya merekam dan menulis adalah penguatan hasil perekaman, Lalu sebuah pertanyaan muncul. Untuk apa saya posting coretan ini? Jawabannya sederhana. Di hari ini saya kembali. Berbagi cerita dan pengalaman di blog yang lama telah saya tinggalkan...

#2 Tegar Hingga di Puncak Harapan

Memasuki bulan Juli. Rasanya saya pernah berkata untuk memposting sesuatu di laman ini pada bulan Mei. Sudah molor ya ternyata. Mumpung masih masa-masa syawal, saya Ika Septiani mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadhan tahun ini. Pun semoga harap kita semua sama, bisa bertemu Ramadhan tahun depan. Kembali pada ulasan Mei, dengan tagar part 1 “Tegar Hingga di Puncak Harapan”. Tulisan ini mewakili bagian kedua sekaligus menjadi penutup dari cerita tagar itu sendiri. Berawal dari keraguan hingga adanya taufiq dan hidayah yang menggerakkan hati untuk mendaftar, maka dimulailah pengembaraan itu. Sebuah langkah yang pasti akan merubah rencana hidup. Satu persatu proses dilewati, mulai dari pemberkasan, wawancara hingga akhirnya masuk pada seleksi tahap akhir. Yang ada dibenak saya, hanya pasrah sama Allah. Sudah. Hehe. Bayang-bayang indahnya rumah cahaya yang tiap hari akan ada kelas pagi dan kelas malam, akan a...