Langsung ke konten utama

#2 Tegar Hingga di Puncak Harapan


Memasuki bulan Juli. Rasanya saya pernah berkata untuk memposting sesuatu di laman ini pada bulan Mei. Sudah molor ya ternyata.

Mumpung masih masa-masa syawal, saya Ika Septiani mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadhan tahun ini. Pun semoga harap kita semua sama, bisa bertemu Ramadhan tahun depan.

Kembali pada ulasan Mei, dengan tagar part 1 “Tegar Hingga di Puncak Harapan”. Tulisan ini mewakili bagian kedua sekaligus menjadi penutup dari cerita tagar itu sendiri.
Berawal dari keraguan hingga adanya taufiq dan hidayah yang menggerakkan hati untuk mendaftar, maka dimulailah pengembaraan itu. Sebuah langkah yang pasti akan merubah rencana hidup.

Satu persatu proses dilewati, mulai dari pemberkasan, wawancara hingga akhirnya masuk pada seleksi tahap akhir. Yang ada dibenak saya, hanya pasrah sama Allah. Sudah. Hehe. Bayang-bayang indahnya rumah cahaya yang tiap hari akan ada kelas pagi dan kelas malam, akan ada setoran ini itu, ditambah lagi nuansa damai yang jauh dari bising macetnya Jalan Kaliurang.
Dihari proses seleksi terakhir, saya tidak bisa mengikutinya hingga usai. Salah satu teman saya sakit dan ia meminta pulang duluan. Akhirnya kami pun meninggalkan lokasi dengan melewatkan satu sesi terakhir, yaitu foto bersama.

Lama waktu berselang, Ummi (sang istri pengelola yang luar biasa) berkata, bahwa pengumuman seleksi akan diumumkan dua pekan setelah seleksi akhir karena pihak pengelola akan mengadakan wisuda terlebih dahulu untuk para santri angkatan sebelumnya.
Sabar menanti pengumuman, saya mengisinya dengan mulai merangkai khayalan jika saya diterima disana. Wah senengnya, batin saya. Terlebih ada beberapa kontak WhatsApp para santri yang saya simpan dan seringkali meng-upload foto dan video kebersamaan saat prosesi wisuda. Ah indah nian mereka, batin saya lagi.

Akhirnya hari yang dinanti tiba. Telat dua atau tiga hari sepertinya, saya agak lupa. Diwaktu yang bersamaan, saya sedang menghadiri sebuah seminar di Klaten. Gemetar tangan saya sewaktu akan membuka laman yang saya ngarepnya akan ada nama saya disana.
Tapiii. Setelah saya buka...
Tadaaa.. tak ada nama saya disana. Bahkan di nama cadangan sekalipun.
Saya berusaha B aja di tengah ramainya orang-orang antusias bertanya ke motivator seminar. Pesan-pesan WhatsApp dari sohib-sohib bermunculan. Memberikan ucapan semangat. Sesampainya di rumah, ya jangan ditanya hehe. Sedih banget wehe.
Apalagi pas sampai Jogja, ya rasanya “Plis, jangan tanya itu dulu..” Wkwk. Maaf atas ke alay an ini.
Tapi satu hal yang saya petik, bahwasanya Allah telah mempersiapkan rumah cahaya yang lain bagi saya nanti. Dimanapun itu, sekalipun itu bukan di Asma Amanina (yah sebut merk pondoknya, wkwk).
Dan pada akhirnya..
Selamat menempuh hidup baru. telusurilah jalan-jalan ilmu Jogja ini. Tinggalkan bekas-bekas jariyah sebelum pada akhirnya merantau ke kota lain dan kembali pulang ke kampung halaman.


Salam
Tegar Hingga di Puncak Harapan
(selesai sudah)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Yogyakarta

“Saya ingin bercerita sedikit. Mengenai perjalanan yang berisikan bulir hikmah yang pernah saya tempuh tahun lalu. Tentang Bandung, Yogyakarta dan tentunya petikan hikmah.” (Ika Septi) Dan akhirnya saya pulang. Bandung meninggalkan banyak cerita, tentang dinginnya malam yang berpadu dengan indahnya alam sekitar. Kuasa Allah lah yang melangkahkan kaki saya dan menggerakkan hati saya untuk bergabung bersama mereka. Berbekal rasa kepo dan testimoni teman-teman kampus, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Awalnya, saya mengajak teman shalihah saya untuk turut mendaftar tapi qodarullah beliau memilih ikut pelatihan di tempat lain yang tak kalah keren nya. Akhirnya saya sendirilah yang benar-benar mendaftar. Melewati serangkaian proses. Saya ragu di awal, akankah saya lolos seleksi? Tiba di hari pengumuman saya terkejut bukan main. Nama saya mampang di pengumuman itu. Rasanya ragu. Akankah bisa ke Bandung? Sendiri pula. Tapi Allah Maha Baik. Allah gerakkan hati Mas Gerry (D...

Saya Kembali

Menulis. Aktifitas yang seringkali saya cantumkan di kolom “hobby” dalam saat pengisian formulir. Membaca juga. Rasa-rasanya mereka adalah angan-angan semu yang selalu saya harapkan menjadi nyata. Berbicara mengenai keduanya, saya jadi ingin flashback beberapa tahun lalu saat masih di SMP. Saya adalah anak yang rajin membaca novel, lalu menulis diary hingga pada akhirnya saya simpan rapat-rapat.  Tapi entah mengapa semenjak kuliah ini, saya menjadi malas. Malas baca buku apapun, bahkan novel sekalipun. Kesibukan hanya terpaku pada caption menarik di media sosial. Astagfirullah , jangan ditiru ya. Padahal, jika kita mau berkaca dan menengok sebentar, ada banyak sekali manfaat ketika kita mau membaca dan menulis. Membaca layaknya merekam dan menulis adalah penguatan hasil perekaman, Lalu sebuah pertanyaan muncul. Untuk apa saya posting coretan ini? Jawabannya sederhana. Di hari ini saya kembali. Berbagi cerita dan pengalaman di blog yang lama telah saya tinggalkan...