Memasuki bulan Juli. Rasanya saya pernah berkata untuk
memposting sesuatu di laman ini pada bulan Mei. Sudah molor ya ternyata.
Mumpung masih masa-masa syawal, saya Ika Septiani
mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal
ibadah kita selama Ramadhan tahun ini. Pun semoga harap kita semua sama, bisa
bertemu Ramadhan tahun depan.
Kembali pada ulasan Mei, dengan tagar part 1 “Tegar
Hingga di Puncak Harapan”. Tulisan ini mewakili bagian kedua sekaligus menjadi
penutup dari cerita tagar itu sendiri.
Berawal dari keraguan hingga adanya taufiq dan hidayah
yang menggerakkan hati untuk mendaftar, maka dimulailah pengembaraan itu. Sebuah
langkah yang pasti akan merubah rencana hidup.
Satu persatu proses dilewati, mulai dari pemberkasan, wawancara
hingga akhirnya masuk pada seleksi tahap akhir. Yang ada dibenak saya, hanya
pasrah sama Allah. Sudah. Hehe. Bayang-bayang indahnya rumah cahaya yang tiap
hari akan ada kelas pagi dan kelas malam, akan ada setoran ini itu, ditambah
lagi nuansa damai yang jauh dari bising macetnya Jalan Kaliurang.
Dihari proses seleksi
terakhir, saya tidak bisa mengikutinya hingga usai. Salah satu teman saya sakit
dan ia meminta pulang duluan. Akhirnya kami pun meninggalkan lokasi dengan
melewatkan satu sesi terakhir, yaitu foto bersama.
Lama waktu berselang, Ummi (sang istri pengelola yang
luar biasa) berkata, bahwa pengumuman seleksi akan diumumkan dua pekan setelah
seleksi akhir karena pihak pengelola akan mengadakan wisuda terlebih dahulu
untuk para santri angkatan sebelumnya.
Sabar menanti pengumuman,
saya mengisinya dengan mulai merangkai khayalan jika saya diterima disana. Wah senengnya,
batin saya. Terlebih ada beberapa kontak WhatsApp para santri yang saya simpan
dan seringkali meng-upload foto dan
video kebersamaan saat prosesi wisuda. Ah indah nian mereka, batin saya lagi.
Akhirnya hari yang dinanti tiba. Telat dua atau tiga
hari sepertinya, saya agak lupa. Diwaktu yang bersamaan, saya sedang menghadiri
sebuah seminar di Klaten. Gemetar tangan saya sewaktu akan membuka laman yang saya
ngarepnya akan ada nama saya disana.
Tapiii. Setelah saya buka...
Tadaaa.. tak ada nama saya disana. Bahkan di nama
cadangan sekalipun.
Saya berusaha B aja di tengah ramainya orang-orang
antusias bertanya ke motivator seminar. Pesan-pesan WhatsApp dari sohib-sohib
bermunculan. Memberikan ucapan semangat. Sesampainya di rumah, ya jangan
ditanya hehe. Sedih banget wehe.
Apalagi pas sampai Jogja, ya rasanya “Plis, jangan
tanya itu dulu..” Wkwk. Maaf atas ke alay
an ini.
Tapi satu hal yang saya petik, bahwasanya Allah telah
mempersiapkan rumah cahaya yang lain bagi saya nanti. Dimanapun itu, sekalipun
itu bukan di Asma Amanina (yah sebut merk pondoknya, wkwk).
Dan pada akhirnya..
Selamat menempuh hidup baru. telusurilah jalan-jalan
ilmu Jogja ini. Tinggalkan bekas-bekas jariyah sebelum pada akhirnya merantau
ke kota lain dan kembali pulang ke kampung halaman.
Salam
Tegar Hingga di Puncak Harapan
(selesai sudah)

Komentar
Posting Komentar