Langsung ke konten utama

Siapa itu BFF?


Saya lupa tepatnya. Kapan kita berempat bisa bertemu dan membuat perjanjian ini. Yang saya ingat: Devi teman saya sejak kelas 1 SD, Indah adalah salah satu sohib di FARISKA, dan Evi? Hmm. Saya lupa. Yang jelas atas izin Allah, melalui kepanitiaan Ramadhan di Kampoeng lah kita bertemu. Kita kerja bersama untuk kampung kita tercinta. Rasanya, saya menemukan keluarga baru di rumah. Kita kemana-mana berempat layaknya kembar siam. Wkwk.
Singkat cerita, waktu berlalu. Tanggal 20 Maret 2016 Evi membuat grup kecil bernama “BFF on WA” dengan emoticon senyum unyu. Bukan hanya itu, grup di line bahkan di instagram pun ada dan dengan subject yang sama, BFF on WA. Kisah baru pun dimulai. Saat itu, kita yang kelas 3 SMA (kecuali saya, 3 SMK) sedang getol nya belajar untuk masuk perguruan tinggi. Sebelum membahas hal ini lebih jauh, tanggal dibentuknya grup itu juga masa-masa menjelang ujian nasional. Lalu terbentuklah kelompok belajar diantara kita berempat. Ingaat sekali, kita berempat mencoba daftar sana-sini. Mulai dari Devi dan Indah yang gagal SNMPTN (jalur masuk PTN dengan nilai raport), saya dan Evi yang hanya diam karena tidak masuk kuota SNMPTN, hingga kita berempat memutuskan mendaftar UM-PTKIN (monggo dicari definisinya).  Penempatan tempat kuliah yang kita pilih, semua berdassar pada kota impian masing-masing.  Evi yang ingin ke .. (kemana Neng? Lupa), Indah yang ingin jadi bibit unggul Surakarta, Devi yang ingin di Semarang, dan saya yang pengen banget di Jogja.
Perjalanan pun dimulai. Kami mendaftar UM-PTKIN dengan kota impian kami masing-masing. Proses belajar pun kita lakoni. Kerja kelompok untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari belajar Matematika (Evi adalah pakar diantara kami), Biologi (Devi banget ini), Bahasa Inggris (katanya saya jago, padahal aslinya belum), sampai belajar Bahasa Arab yang dari kita berempat hanya Indah yang faham karena sudah mendapat materi ini sejak MTS (Madrasah Tsanawiyah,sejajar dengan SMP) dan berlanjut di MAN (Madrasah Aliyah Negeri, sejajar dengan SMA). Buku-buku tebal bak mantra kita lahap satu persatu meskipun berakhir dengan kepala pusing dan kejenuhan luar biasa.
Oke. Finally, hari yang dinanti tiba. Indah memilih ujian di Solo, dan kami bertiga di Jogjakarta. Singkat cerita, ujian selesai. Tiga sesi kita lahap benar-benar. Sejenak melupakan 3 sesi itu, kami kembali belajar kelompok untuk persiapan ujian di tempat lain. Akhirnya, hari pengumuman pun tiba. Tersiar kabar bahwa pengumuman itu juga tertulis di koran Republika. Seketika, saya dan Evi langsung pergi mencari penjual koran. Tak mudah, karena kondisi sudah sore dan hanya tersisa koran lokal. Namun Allah beri jalan. Koran sudah ditangan. Hati saya berdebar. Dug dug dug. Apakah kita berempat lolos?
Dan ternyata, Allah berkehendak lain. Ketiga teman saya diterima. Evi diterima di jurusan Matematika IAIN Salatiga, Indah diterima di jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Surakarta dan Devi diterima di Pendidikan Biologi UIN Walisongo Semarang. Tersisa saya yang masih jomblo, belum dapat pasangan universitas. Sepanjang jalan menuju rumah saya menangis. Impian saya untuk menjadi guru PAI belum bisa terlaksana. (FYI: saya mengambil jurusan PAI dan Perbankan Syariah)
Mereka bertiga akhirnya sepakat untuk mengambil kesempatan ini. Saat mereka bertiga bersama mencari kelengkapan berkas pendaftaran ulang, saya masih harus belajar lagi dan lagi. Senang bercampur sedih. Nano-nano. I think enough, that’s all saja ya.

Jadi, begitulah salah satu kisah berkesan saya tentang kalian, BFF (on WA) wkwk. Dibalik itu semua, terima kasih telah menjadi reminder satu sama lain. Saya rindu kalian btw. Alhamdulillah rihlah pertama kita lancar ya Neng (p.s. panggilan diantara kami). Kebun teh di Karanganyar yang menentramkan dan Candi Cetho bak negeri di atas awan.


Neng, tetap semangat ya kalian. Terkhusus Evi yang sekarang jadi adik tingkat, karena sudah pindah ke UNS, calon guru kimia lagi. MasyaAllah.
Tetaplah menyinari sekitar kalian ya Neng. Jadilah mbak-mbak yang tangguh dan menginspirasi. Pulang ke Klaten, mengabdi buat kampung tercinta. Semangat semester 4 untuk Indah dan Devi. Semangat semester 2 untuk Dek Evi.

Terakhir,

“Jika engkau mempunyai teman yang membantumu kepada ketaatan, maka eratkanlah peganganmu padanya. Karena mendapatkan teman itu sulit sedangkah berpisah darinya sangat mudah.”

Dari saya Neng,
Ika Septiani (anggota BFF yang akhirnya bisa kuliah di Jogja)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Yogyakarta

“Saya ingin bercerita sedikit. Mengenai perjalanan yang berisikan bulir hikmah yang pernah saya tempuh tahun lalu. Tentang Bandung, Yogyakarta dan tentunya petikan hikmah.” (Ika Septi) Dan akhirnya saya pulang. Bandung meninggalkan banyak cerita, tentang dinginnya malam yang berpadu dengan indahnya alam sekitar. Kuasa Allah lah yang melangkahkan kaki saya dan menggerakkan hati saya untuk bergabung bersama mereka. Berbekal rasa kepo dan testimoni teman-teman kampus, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Awalnya, saya mengajak teman shalihah saya untuk turut mendaftar tapi qodarullah beliau memilih ikut pelatihan di tempat lain yang tak kalah keren nya. Akhirnya saya sendirilah yang benar-benar mendaftar. Melewati serangkaian proses. Saya ragu di awal, akankah saya lolos seleksi? Tiba di hari pengumuman saya terkejut bukan main. Nama saya mampang di pengumuman itu. Rasanya ragu. Akankah bisa ke Bandung? Sendiri pula. Tapi Allah Maha Baik. Allah gerakkan hati Mas Gerry (D...

Saya Kembali

Menulis. Aktifitas yang seringkali saya cantumkan di kolom “hobby” dalam saat pengisian formulir. Membaca juga. Rasa-rasanya mereka adalah angan-angan semu yang selalu saya harapkan menjadi nyata. Berbicara mengenai keduanya, saya jadi ingin flashback beberapa tahun lalu saat masih di SMP. Saya adalah anak yang rajin membaca novel, lalu menulis diary hingga pada akhirnya saya simpan rapat-rapat.  Tapi entah mengapa semenjak kuliah ini, saya menjadi malas. Malas baca buku apapun, bahkan novel sekalipun. Kesibukan hanya terpaku pada caption menarik di media sosial. Astagfirullah , jangan ditiru ya. Padahal, jika kita mau berkaca dan menengok sebentar, ada banyak sekali manfaat ketika kita mau membaca dan menulis. Membaca layaknya merekam dan menulis adalah penguatan hasil perekaman, Lalu sebuah pertanyaan muncul. Untuk apa saya posting coretan ini? Jawabannya sederhana. Di hari ini saya kembali. Berbagi cerita dan pengalaman di blog yang lama telah saya tinggalkan...

#2 Tegar Hingga di Puncak Harapan

Memasuki bulan Juli. Rasanya saya pernah berkata untuk memposting sesuatu di laman ini pada bulan Mei. Sudah molor ya ternyata. Mumpung masih masa-masa syawal, saya Ika Septiani mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadhan tahun ini. Pun semoga harap kita semua sama, bisa bertemu Ramadhan tahun depan. Kembali pada ulasan Mei, dengan tagar part 1 “Tegar Hingga di Puncak Harapan”. Tulisan ini mewakili bagian kedua sekaligus menjadi penutup dari cerita tagar itu sendiri. Berawal dari keraguan hingga adanya taufiq dan hidayah yang menggerakkan hati untuk mendaftar, maka dimulailah pengembaraan itu. Sebuah langkah yang pasti akan merubah rencana hidup. Satu persatu proses dilewati, mulai dari pemberkasan, wawancara hingga akhirnya masuk pada seleksi tahap akhir. Yang ada dibenak saya, hanya pasrah sama Allah. Sudah. Hehe. Bayang-bayang indahnya rumah cahaya yang tiap hari akan ada kelas pagi dan kelas malam, akan a...