Sore itu saya kembali berfikir dan berfikir. Iya atau
tidak? Coba atau hanya diabaikan?
Mimpi saya sejak SMK sejatinya bisa saya tunaikan
sekarang. Namun lagi-lagi, iya atau tidak? Rasa-rasanya saya bingung. Tentang 2
tahun ke depan. Tetntang rencana lulus tahun depan. Tentang keluarga. Tentang
rumah. Dan semuanya. Saya ragu bukan main. Perlu berhari-hari untuk akhirnya
bisa mengumpulkan nyali. Hingga akhirnya setelah nyali genap, saya memberanikan
diri untuk mengisi lembaran kertas itu. Satu persatu saya isi. Saya cermati
betul-betul hingga tiba pada lembaran persetujuan orang tua. Saya putuskan
untuk pulang saat itu.
Saya jelaskan pada Mamak
(panggilan untuk ibu) tentang keputusan ini. Dilihat dari raut wajahnya,
datar. Dilihat gaya bahasanya, B saja. Namun pada akhirnya, beliau mau
menandatangani kertas itu. Beliau menyerahkan semua pilihan pada saya. Nafas
lega. Izin sudah didapat.
Beralih pada berkas-berkas lain. 3 hari menjelang
penutupan pendaftaran, saya antarkan berkas-berkas itu ke kantornya. Cukup jauh
memang. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini yang mudah dalam segala
sesuatu. Tahap berkas usai, akhirnya naik level tahap wawancara. Deg-degan
pasti. Galau iya. Atas nama Allah, akhirnya wawancara itu usai.
Tempo hari, ada pesan masuk. Pesan itu pemberitahuan
seleksi tingkat tiga setelah berkas dan wawancara. Lagi-lagi saya bingung. Saya
ambil atau saya lepaskan.
Suara-suara sumbang sudah bersliweran. Mulai dari:
“Ka, nanti pulangnya susah lho...”
“Nanti lulusmu kapan? Kan disana dua tahun”
“Mau bayar pakai apa?”
Dan semua pertanyaan memburu lainnya. Saya tak banyak
ucap, hanya keyakinan yang saat ini saya pegang erat-erat. Akan ada penolong
dari berbagai pihak dan 1 penolong terbaik, Allah Ta’ala.
Nantikan kelanjutannya kisahnya,
InsyaAllah di bulan Mei
Salam
Tegar hingga di puncak harapan

Komentar
Posting Komentar