Langsung ke konten utama

#1 Tegar Hingga di Puncak Harapan



Sore itu saya kembali berfikir dan berfikir. Iya atau tidak? Coba atau hanya diabaikan?
Mimpi saya sejak SMK sejatinya bisa saya tunaikan sekarang. Namun lagi-lagi, iya atau tidak? Rasa-rasanya saya bingung. Tentang 2 tahun ke depan. Tetntang rencana lulus tahun depan. Tentang keluarga. Tentang rumah. Dan semuanya. Saya ragu bukan main. Perlu berhari-hari untuk akhirnya bisa mengumpulkan nyali. Hingga akhirnya setelah nyali genap, saya memberanikan diri untuk mengisi lembaran kertas itu. Satu persatu saya isi. Saya cermati betul-betul hingga tiba pada lembaran persetujuan orang tua. Saya putuskan untuk pulang saat itu. 
Saya jelaskan pada Mamak (panggilan untuk ibu) tentang keputusan ini. Dilihat dari raut wajahnya, datar. Dilihat gaya bahasanya, B saja. Namun pada akhirnya, beliau mau menandatangani kertas itu. Beliau menyerahkan semua pilihan pada saya. Nafas lega. Izin sudah didapat.
Beralih pada berkas-berkas lain. 3 hari menjelang penutupan pendaftaran, saya antarkan berkas-berkas itu ke kantornya. Cukup jauh memang. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini yang mudah dalam segala sesuatu. Tahap berkas usai, akhirnya naik level tahap wawancara. Deg-degan pasti. Galau iya. Atas nama Allah, akhirnya wawancara itu usai.
Tempo hari, ada pesan masuk. Pesan itu pemberitahuan seleksi tingkat tiga setelah berkas dan wawancara. Lagi-lagi saya bingung. Saya ambil atau saya lepaskan.

Suara-suara sumbang sudah bersliweran. Mulai dari:

“Ka, nanti pulangnya susah lho...”

“Nanti lulusmu kapan? Kan disana dua tahun”

“Mau bayar pakai apa?”

Dan semua pertanyaan memburu lainnya. Saya tak banyak ucap, hanya keyakinan yang saat ini saya pegang erat-erat. Akan ada penolong dari berbagai pihak dan 1 penolong terbaik, Allah Ta’ala.

Nantikan kelanjutannya kisahnya,
InsyaAllah di bulan Mei

Salam
Tegar hingga di puncak harapan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Yogyakarta

“Saya ingin bercerita sedikit. Mengenai perjalanan yang berisikan bulir hikmah yang pernah saya tempuh tahun lalu. Tentang Bandung, Yogyakarta dan tentunya petikan hikmah.” (Ika Septi) Dan akhirnya saya pulang. Bandung meninggalkan banyak cerita, tentang dinginnya malam yang berpadu dengan indahnya alam sekitar. Kuasa Allah lah yang melangkahkan kaki saya dan menggerakkan hati saya untuk bergabung bersama mereka. Berbekal rasa kepo dan testimoni teman-teman kampus, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Awalnya, saya mengajak teman shalihah saya untuk turut mendaftar tapi qodarullah beliau memilih ikut pelatihan di tempat lain yang tak kalah keren nya. Akhirnya saya sendirilah yang benar-benar mendaftar. Melewati serangkaian proses. Saya ragu di awal, akankah saya lolos seleksi? Tiba di hari pengumuman saya terkejut bukan main. Nama saya mampang di pengumuman itu. Rasanya ragu. Akankah bisa ke Bandung? Sendiri pula. Tapi Allah Maha Baik. Allah gerakkan hati Mas Gerry (D...

Saya Kembali

Menulis. Aktifitas yang seringkali saya cantumkan di kolom “hobby” dalam saat pengisian formulir. Membaca juga. Rasa-rasanya mereka adalah angan-angan semu yang selalu saya harapkan menjadi nyata. Berbicara mengenai keduanya, saya jadi ingin flashback beberapa tahun lalu saat masih di SMP. Saya adalah anak yang rajin membaca novel, lalu menulis diary hingga pada akhirnya saya simpan rapat-rapat.  Tapi entah mengapa semenjak kuliah ini, saya menjadi malas. Malas baca buku apapun, bahkan novel sekalipun. Kesibukan hanya terpaku pada caption menarik di media sosial. Astagfirullah , jangan ditiru ya. Padahal, jika kita mau berkaca dan menengok sebentar, ada banyak sekali manfaat ketika kita mau membaca dan menulis. Membaca layaknya merekam dan menulis adalah penguatan hasil perekaman, Lalu sebuah pertanyaan muncul. Untuk apa saya posting coretan ini? Jawabannya sederhana. Di hari ini saya kembali. Berbagi cerita dan pengalaman di blog yang lama telah saya tinggalkan...

#2 Tegar Hingga di Puncak Harapan

Memasuki bulan Juli. Rasanya saya pernah berkata untuk memposting sesuatu di laman ini pada bulan Mei. Sudah molor ya ternyata. Mumpung masih masa-masa syawal, saya Ika Septiani mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadhan tahun ini. Pun semoga harap kita semua sama, bisa bertemu Ramadhan tahun depan. Kembali pada ulasan Mei, dengan tagar part 1 “Tegar Hingga di Puncak Harapan”. Tulisan ini mewakili bagian kedua sekaligus menjadi penutup dari cerita tagar itu sendiri. Berawal dari keraguan hingga adanya taufiq dan hidayah yang menggerakkan hati untuk mendaftar, maka dimulailah pengembaraan itu. Sebuah langkah yang pasti akan merubah rencana hidup. Satu persatu proses dilewati, mulai dari pemberkasan, wawancara hingga akhirnya masuk pada seleksi tahap akhir. Yang ada dibenak saya, hanya pasrah sama Allah. Sudah. Hehe. Bayang-bayang indahnya rumah cahaya yang tiap hari akan ada kelas pagi dan kelas malam, akan a...