Langsung ke konten utama

#1stRead: Membasuh Luka Pengasuhan

 Buku ini masuk dalam wishlist untuk dibaca sejak lama. Dari judulnya saja tak terbayangkan apa yang ada di dalamnya. Singkat cerita, saat itu ada teman lingkarku yang sedang sakit. Kami satu rombongan menjenguknya di kos. Pandangan mataku tertuju pada buku berwarna putih ini. Dengan wajah cengar-cengir kusampaikan pada temanku, “Mbak, izin pinjam boleh?” tanyaku. Dibalas senyum ramah olehnya. Yes. Tanda dibolehkan.

Ini buku pertama yang lulus kubaca di tahun 2022. Seperti biasa, sebelum membaca buku aku menyiapkan diriku seperti gelas kosong yang siap diisi. Sembari berdoa agar apa yang kubaca ini bermanfaat, minimal untuk memperbaiki diriku sendiri.

Buku ini ditulis oleh pasangan inspiratif; Teh Pepew (@febriantialmeera) dan Kang Ulum (@ulum.asaif). Beliau berdua berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Dari perbedaan itulah lahir buku ini sebagai inspirasi banyak orang. Baarakallahufiikum Teh, Kang.

Pada halaman pembuka buku ini, Teh Pepew menuliskan kalimat yang kiranya sering sekali lupa untuk dimaknai mendalam.

Tidak ada satu pun takdir Allah yang buruk. Yang ada, hanyalah takdir yang belum kita fahami. Apa maksud baik di dalamnya.


Kita seakan diajak kembali ke masa kecil. Mengingat-ingat lagi apakah ada perasaan emosi yang tertahan, emosi yang belum dilepaskan, atau melihat dan mengalami kejadian yang menyakitkan bersama orang tua kita.

Seakan-akan kita ditanya: “Bagaimana hubungan kita terhadap orang tua kita?”. Apakah baik-baik saja, atau ada yang membuat jarak, atau bahkan tak ada rasa sayang sedikitpun kepada mereka. Pun bagaimana bakti kita kepada keduanya? Apakah sudah baik untuk berbakti, atau setengah hati atau bahkan tidak mau?

Karena ternyata, hal ini bisa berdampak besar di kehidupan seseorang di waktu yang akan datang dan berpotensi menguat jika orang tersebut sudah menikah dan memiliki keturunan. Nah inilah salah satu yang bisa menyebabkan rusaknya sebuah hubungan. Antara anak dengan orang tua karena merasa menjadi anak durhaka, antara orang tua dengan anak karena melukai perasaannya dan kepada diri sendiri karena sakit memendam emosi negatif yang belum dilepaskan. Emosi negatif yang dimaksud bisa berupa rasa benci kepada orang tua, muak, trust issue, kesal, merasa bersalah, dan lainnya.Tak terbayang jika perasaan itu muncul kembali dan membuat batin tak nyaman, sedangkan kita tak tahu mengapa ini ada dan bagaimana mengatasinya. Inilah luka pengasuhan.

Bagiku, hal yang paling menarik dari buku ini adalah ketika penulis mengulas cara membasuh luka pengasuhan dari dua sudut pandang; Qurani (Tazkiyatun Nafs) dan Emosi (Terapi DEPTH). Beliau berdua juga menyampaikan, mengakui adanya luka pengasuhan bukanlah sebuah tanda bahwa orang itu durhaka kepada orang tuanya. Justru dengan mengakuinya, menerimanya dan memaafkannya akan menjadi obat untuk setulus hati berbakti kepadanya.

Untuk siapapun yang hari ini masih berjuang membasuh luka pengasuhan, semoga Allah lancarkan, Allah berkahi, dan Allah tenangkan. Sama-sama berjuang jadi anak yang baik ya. Karena sejatinya orang tua kita juga tidak salah, beliau berperilaku demikian kemungkinan juga karena mengalami luka pada kehidupan sebelumnya. Kini saatnya kita, yang akan berusaha memutus luka pengasuhan itu untuk generasi berikutnya.

Akhir kata, selamat membaca!                           

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Yogyakarta

“Saya ingin bercerita sedikit. Mengenai perjalanan yang berisikan bulir hikmah yang pernah saya tempuh tahun lalu. Tentang Bandung, Yogyakarta dan tentunya petikan hikmah.” (Ika Septi) Dan akhirnya saya pulang. Bandung meninggalkan banyak cerita, tentang dinginnya malam yang berpadu dengan indahnya alam sekitar. Kuasa Allah lah yang melangkahkan kaki saya dan menggerakkan hati saya untuk bergabung bersama mereka. Berbekal rasa kepo dan testimoni teman-teman kampus, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Awalnya, saya mengajak teman shalihah saya untuk turut mendaftar tapi qodarullah beliau memilih ikut pelatihan di tempat lain yang tak kalah keren nya. Akhirnya saya sendirilah yang benar-benar mendaftar. Melewati serangkaian proses. Saya ragu di awal, akankah saya lolos seleksi? Tiba di hari pengumuman saya terkejut bukan main. Nama saya mampang di pengumuman itu. Rasanya ragu. Akankah bisa ke Bandung? Sendiri pula. Tapi Allah Maha Baik. Allah gerakkan hati Mas Gerry (D...

Saya Kembali

Menulis. Aktifitas yang seringkali saya cantumkan di kolom “hobby” dalam saat pengisian formulir. Membaca juga. Rasa-rasanya mereka adalah angan-angan semu yang selalu saya harapkan menjadi nyata. Berbicara mengenai keduanya, saya jadi ingin flashback beberapa tahun lalu saat masih di SMP. Saya adalah anak yang rajin membaca novel, lalu menulis diary hingga pada akhirnya saya simpan rapat-rapat.  Tapi entah mengapa semenjak kuliah ini, saya menjadi malas. Malas baca buku apapun, bahkan novel sekalipun. Kesibukan hanya terpaku pada caption menarik di media sosial. Astagfirullah , jangan ditiru ya. Padahal, jika kita mau berkaca dan menengok sebentar, ada banyak sekali manfaat ketika kita mau membaca dan menulis. Membaca layaknya merekam dan menulis adalah penguatan hasil perekaman, Lalu sebuah pertanyaan muncul. Untuk apa saya posting coretan ini? Jawabannya sederhana. Di hari ini saya kembali. Berbagi cerita dan pengalaman di blog yang lama telah saya tinggalkan...

#2 Tegar Hingga di Puncak Harapan

Memasuki bulan Juli. Rasanya saya pernah berkata untuk memposting sesuatu di laman ini pada bulan Mei. Sudah molor ya ternyata. Mumpung masih masa-masa syawal, saya Ika Septiani mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadhan tahun ini. Pun semoga harap kita semua sama, bisa bertemu Ramadhan tahun depan. Kembali pada ulasan Mei, dengan tagar part 1 “Tegar Hingga di Puncak Harapan”. Tulisan ini mewakili bagian kedua sekaligus menjadi penutup dari cerita tagar itu sendiri. Berawal dari keraguan hingga adanya taufiq dan hidayah yang menggerakkan hati untuk mendaftar, maka dimulailah pengembaraan itu. Sebuah langkah yang pasti akan merubah rencana hidup. Satu persatu proses dilewati, mulai dari pemberkasan, wawancara hingga akhirnya masuk pada seleksi tahap akhir. Yang ada dibenak saya, hanya pasrah sama Allah. Sudah. Hehe. Bayang-bayang indahnya rumah cahaya yang tiap hari akan ada kelas pagi dan kelas malam, akan a...